Friday, May 16, 2008

MENJADI BUDAK UNTUK SEDEKAH

Dalam hadist riwayat At-Tabrani diceritakan. Ketika Rasulullah duduk bersama sahabat-sahabatnya, bercerita tentang Nabi Khidhir.

Suatu hari Nabi Khidhir berjalan ditengah pasar, demikian Rasulullah memulai ceritanya. Saat itu Nabi Khidhir berpapasan dengan seorang budak maktab (budak yang merdeka berdasarkan perjanjian yang telah disepakati beersama).

“Bersedekahlah untukku Tuan. Semoga Allah memberkatimu,” kata budak itu.

“Aku percaya pada takdir Allah, tetapi hari ini aku benar-benar tak punya untuk kusedekahkan kepadamu,” jawab Nabi Khidir.

“Bi wajhillah ( Demi mengharap wajah Allah) saya memohon kepadamu, bersedekahlah kepadaku, kulihat tuan adalah seorang yang baik, saya ingin sekali memperoleh berkah darimu,” rengek budak itu.

Karena terus mendesak, akhirnya Nabi Khidir mengambil keputusan.

“Aku beriman kepada Allah, tetapi aku tak punya apapun yang bisa kuberikan kepadamu, kecuali kau mau menjualkusebagai budak,” kat Nabi Khidir

Benarkah tuan mau menjadi budak karena hanya ingin bersedekah kepadaku?,” Tanya budak itu ragu.

“Engkau telah meminta sesuatu dariku bi wajhillah. Demi Allah aku tak ingin mengecewakanmu. Karena itu jualah diriku sebagai budak,” jawab Nabi Khidir

Budak itu ternyata nekat membawa Nabi Khidir kepada seorang hartawan untuk dijual sebagai budak. Ia laku 400 dirham, dan uang itu diterimanya, sejak itu Nabi Khidir tinggal dirumah majikannya yang telah membeli dirinya sebagai budak.

“Tuan anda telah membeli diriku. Tak usah sungkan memerintahku untuk melakukan suatu pekerjaan,” kata Nabi Khidir kepada majikannya.

“Baiklah kalau itu maumu, pindahkan batu-batu itu.”

Nabi Khidir kemudian memindahkan batu-batu itu ketempat yang ditunjukkan majikannya. Biasanya batu-batu itu dipindahkan satu pekerja dalam waktu berminggu-minggu. Tetapi Nabi Khidir mampu memindahkan dalam waktu Cuma sebentar saja.

“Alangkah baik pekerjaanmu,” puji majikannya setengah tidak percaya.
karena sangat dipercaya, Nabi Khidir suatu hari diminta menjaga rumah dan keluarga majikannya.

“Aku tak menolak jika kau perintahkan mengerjakan apapun, tapi jangan kau perintahkan aku melakukan itu.” Tolak Nabi Khidir

“Kenapa?, jika kau ku perintahkan melakukan pekerjaan lain, aku khawatir nanti akan menyengsarakanmu”

“Atas kuasa Allah, tak ada sesuatu pekerjaan yagn akan memberatkanku,” sekali lagi Nabi Khidir meyakinkan majikannya.

“Aku ingin membuat batu bata, nanti setelah aku kembali dari bepergian akan kubuat membangun rumah. Apakah kau sanggup melaksanakannya?,”

Nabi Khidir menyanggupi pekerjaan itu. Kemudian ia mulai membuat batu bata saat majikannya berangkat pergi.

Ketika majikannya kembali dari bepergiaan, lagi-lagi dibuatnya keheranan. Batu bata itu telah selesai dikerjakannya ,bahkan sudah rampung membangun rumah yang ia rencanakan.

Melihat kejadian yang tidak masuk akal secara beruntun, majikan Nabi Khidir mulai curiga.

“Bi Wajhillah, aku bertanya kepadamu, apa yang terjadi dan bagaiman kau bisa melakukan hal ini semua?” kata majikan itu.

Akhirnya Nabi Khidir menceritakan peristiwa sejak dimintai sedekah oleh seorang budak makatab karena bi wajhillah, sampai dia menjual dirinya sebagai budak .”Barang siapa yang diminta dengan bi wajhillah, tetapi dia menolak, padahal dia mampu melakukannya, di hari kiamat nanti dia akan menghadap Allah tanpa daging dan dengan nafas tersengal sengal,” kata Nabi Khidir

“Maafkan saya nabiyullah, jika mengetahui anda ini adalah seorang Nabi, tentu tak akan terjadi seperti ini,” kata majikan itu menyesali perbuatannya.

“Sekarang kumerdekakan anda tanpa tebusan, dan silakn anda tinggal disini untuk mengatur keluargaku,wahai Nabiyullah,” sambungnya.

“Aku memang lebih suka merdeka, karena dengan merdeka, aku bisa lebih bebas beribadah kepada Allah<” jawab Nabi Khidir

Kemudia Nabi Khidir berdoa;

“Alhamdullilahi alladzi autsaqana fi u’budiyyati, tsumma najjani minha.( Segala puji milik Allah, yang mengikat aku dalam perbudakan sesaat. Dan telah menyelamatkan diriku dari perbudakan itu ).

ILMUWAN YANG MURTAD


Sebagaimana dikisahkan dalam Alqur’an surat Al-Qashash ayat 76-82, tentang seorang yang kaya raya, tetapi kemudian diadzab Allah karena kesombongan pada hartanya.

Qarun adalah saudara dekat Nabi Musa,mereka masih keluarga sepupu. Pada mulanya ia adalah seorang yang miskin, namun sangat tekkun beribadah. Nabi Musa sangat kagum padanya, melihat keadaannya yang miskin Nabi Musa sangat kasihan dan prihatin, maka diberinya Qarun ilmu kimia, sehingga ia memiliki keahlian dalam mengolah emas.dengan kepandaiannya itulah akhirnya qarun yang sebelumnya miskin menjadi sangat kaya raya.

Sayangnya, setelah kaya Qarun menjadi sombong dan lupa diri.ia sekarang tak mau lahi mengeluarkan zakat bagi fakir miskin. Bahkan sebagai orang kaya, ia berlagak seperti seorang raja yang lengkap dengan pegawai dan pelayannya.

Ia menpunyai gudang-gudang berisi harta benda yang tak terbilang banyakya. Setiap hari Qarun memeriksa gudangnya satu-persatu diiringkan budak-budaknya yang masing-masing membawa beban berupa anak kunci yang tak terhitung banyaknya.

“ Sungguh aku orang yang sangat beruntung didunia ini. Pada masa kini tak ada yang dapat menyamai kekayaanku. Semua itu kudapat dari ilmu dan kepintaranku.” Kata Qarun dengan sombong, ketika memamerkan kekayaannya didepan umum.

“ Hai, Qarun, carilah kekayaan sebanyak-banyaknya, tapi ingatla hidupmu diakhirat nanti” kata seorang sahabatnya mengingatkan.

“ Ah, kalian ingin mengatakan Tuhan Allahmu itu?” sahut Qarun sinis.”mengapa semudah itu kalian dapat dibohongi oleh Musa? Ketahuilah Tuhan yang disiarkan Musa itu Cuma dongeng belaka. Didunia ini hanya satu yang berkuasa, yaitu Yang Mulia Tuhan raja Fir’aun . itu sebabnya aku doberi surga berupa hatra kekayaan melimpah.”

Qarun kemudian berlalu tanpa menghiraukan orang-orang yang menasehatinya.

Mendengar bahwa Qarun semakin ingkar, Nabi Musa datang menemuinya.beliau disambut ramah oleh Qarun.

“ Selamat datang whai saudaraku, anak pamanku” sanbut Qarun.”Apa Kkabarmu wahai Musa? Berita apakah yang engkau bawa?.

Ada yang ingin kutanyakan, yaitu tentang sikapmu akhir-akhir ini,” jawab Nabi Musa.” Aku mendengar bahwa engkau sudah tak beriman lagi pada Allah, Engkau telah ingkar kepada Allah. Bahkan kau kini menyembah-nyembah Fir’aun.kauu juga telah menyombong-nyombongkan bahwa hartamu itu kau dapat karena kau beriman kepada Fir’aun.”

“ Ah, Cuma fitnah keji dari orang-orang yang merasa iri dengan kekayaanku. Percayalah, hai Musa saudaraku.aku masih beriman dan menyembah Allah .”

“ Maha suci Allah.jangan sekali-kali kau ingkar. Sesungguhnya Allah telah banyak menimpakan siksaan kepada orang-orang yang mendustakanNya.”

Banyak sekali nasehat-nasehat yang disampaikan Nabi Musasebelum pergi kepada Qarun. Namun dibibir Qarun lain pula dihatinya. Telah berjalan dan berpijak pada kemunafikan.

“ Sebenarnya Musa itulah yang telah menyombongkan diri,” kata Qarun dalam hati.” Dia mengaku-ngaku sebagai Nabi utusan Tuhan. Aku tahu maksudnya, ia hendak mencari kekuasaan dengan cara yang mudah, pada suatu saat nanti, pasti orang-orang disuruh menyembah dirinya.”

Hari demi hari, kelakuan Qarun semakin menggila, jadilah ia lintah darat yang tanggung-tanggung. Ia meminjamkan uang dengan bunga yang tinggi,dan berlipat ganda. Tak peduli miskin atau kaya, semua diperas dan dicekik lehernya.barangsiapa yang tak dapat melunmasi hutangnya, akan disita semua barang miliknya,dirampas kebun, lading dan sawahnya, atau orang-orang tersebut akan dijadikan budak, jika tak memiliki apa-apa, seringkali Qarun berbuat aniaya terhadap orang-orang miskin yang sengsara.

Dengan demikian bertambahlah kekayaan Qarun, ia semakin sombong dan sewenang-wenang. Semakin besarla kedurhakaannya terhadap Allah. Nabi Musa yang mendengarkan semuanya semakin sedih hatinya dan sangat prihatin serta kecewa atas prilaku saudara sepupunya itu.dengan tiada bosan-bosannya Nabi Musa menasehati Qarun. Namun Qarun tak pernah mengubrisnya. Kesombongan dan kedurhakaannya semakin menghebat. Seringjali ia turun kejalan dan mengadakan pawai besar, memamerkan kekayaan dan kesenangan hidupnya. Dalam arak-arakan yang panjang itu ikut serta semua istri-istrinya dan wanita-wanita peliharaan yang semuanya memakai perhiasa-perhiasanemas permata. Dan tak lupa ratusan budaknya ikut dalam pawai itu.

Meskipun kecongkakkan dan kemirtadan Qarun makin hari makin tak karuan, namun Nabi Musa tetap sabar untuk menasehatinya, tapi hal itu ditanggapi lain oleh Qarun, dianggapnya Nabi Musa iri dengan apa yang dimilikinya. Dan juga Nabi Musa dianggap duri bagi kehidupannya. Maka Qarun berusaha dengan bermacam tipu daya untuk menjelek-jelekkan nama baiknya.

Pada suatu hari Qarun memanggil seorang pelacur. Diberikanya upah besar pada pelacur itu agar mengaku didepan umum bahwa ia telah melakukan zina dengan Nabi Musa.

Maka pada suatu hari raya, Qarun mengumpulkan orang-orang dari segala penjuru kota untuk menghadiri rapar besar. Dimana dikatankan bahwa Nabi Musa akan berdakwah dan memberi nasehat.

Ketika semuanya sudah berkumpul, mulailah Nabi Musa memberikan nasehat-nasehat.

“ Barangsiapa mencuri, akan kami potong tangannya.” Ucap Nabi Musa lantang.”Dan barangsiapa yang berbuat zina maka, kami rajam dia.”

Tiba-tiba Qarun kedepan dan memotong pidato Nabi Musa.” Sekalipun engkau yang berbuat Nabi Musa.”

“ Ya sekalipun aku yang berbuat , hukumtetap berlaku.”

“ Hai Musa, jika begitu engkau harus dirajam atau dilempari batu, Bani israil telah menuduhmu berzina dengan seorang pelacur, teriak Qarun.”

Mendengar apa yang diucapkan Qarun, Nabi Musa bagai disambar petir, ia hanyamenyebut nama Allah.

Perempuan pelacur itu dipanggil oleh Qarun dan dihadapkan Nabi Musa.

“ Engkau bersih dan bebas dari apa yang mereka tuduhkan kepadamu, Nabi Musa. Qarun telah memberiku seribu dinar untuk melancarkan tuduhan keji atau fitnah ini kepadamu. Meskipun selama ini perbuatanku kurang terpuji, tapi aku takut kepada Allah untuk melakukan perbuatan jahat itu kepadamu.”

Mendengar ucapan pelacur itu, seketika lemaslah tubuh Nabi Musa, beliau menangis dan berdo’a:

“Ya Allah, jika benar aku ini Nabimu,maka tolonglah hambamu ini.”

Maka turunlah wahyu Allah “Hai Musa, kami telah jadikan bumi ini tunduk pada perintahmu, maka perintahkanlah sesukamu!”

Nabi Musa kemudian memperingatkan Qarun.

“Bertobatlah dan minta ampunlah kepada Allah, sebelum azab menimpamu!”

“Aku tidak percaya kepada Allah tuhanmu! Aku takut dengan azab itu! Semua itu bohong!” jawab Qarun dengan sengit.

Nabi Musa berseru lantang kepada kaumnya :

Barang siapa bersama Qarun, tetaplah ditempatnya! Dan barang siapa bersamaku, hendaknya meninggalkan temapt ini”

Orang-orang yang beriman kepada Nabi Musa segera berbondong-bondong meninggalkan tempat itu. Sedangkan Qarun dan pera pengikutnya yang sedang masih berdiri ditempat itu dengan sombong.

“Dengan Nama Allah, Hai bumi telanlah Qarun dan pengikutnya serta semua harta bendanya!” teriak Nabi Musa dan kemudian menghentakkan tongkat mukjizatnya keatas tanah.

Tiba-tiba tanah membelah. Qarun dan pengikutnya terbenam kedalamnya mula-mula sebatas lutut,kepinggang, keleher, lalu seluruh tubuh hingga tak nampak lagi, lenyap ditelan bumi.

Baersamaan itu terbenam pula semua gedung-gedung. Kekayaan harta benda Qarun kedalam bumi.

Dengan begitu tamatlah riwayat Qarun dan harta kekayaanya yang berlimapah itu tidak seorangpun dari budak-budak dan harta kekayaan serta orang-orang yang dekat dengannya yang menolong.sebagaimana yang disebautkan dalamAl-Qur’an, “ maka Kami benamkan Qarun beserta rumahnya kedalam bumi. Tidak ada baginya ssuatu golonganpun yang bisa menolongnya terhadap azab Allah. Dan tiadalah ia termasuk orang-orang(yang dapat) membela (dirinya).”

HUKUM MESTI DI TEGAKKAN

Suatu hari datang seorang wanita dari Bani Najjar menemui Umar bin Khatab. Wanita itu mengadu bahwa telah dizinahi oleh Abu Salamah atau Ubaidillah, putra Umar bin Khatab, hingga hamil dan melahirkan bayi.

Mendengar hal itu betapa murkanya Umar bin Khatab. Tentu saja hal itu sangat memalukan dirinya.

“Hai jariyah, benar apa yang kau ucapkan tadi?” Tanya Umar bin Khatab.

“Benar Khalifah, saya berani bersumpah diatas Al-Qur’an, jika aku dianggap bohong,” kata wanita itu meyakinkan.

Mendengar apa yang diucapakn wanita itu tadi yang bernama Jarriyah. Khalifah Umar bin Khatab merasa yakin bahwa wanita itu tidak berdusta. Dan anak yang digendonggnya itu merupan bukti perzinahannya dengan Abu Salamah, anak kandunggnya.

Dengan menahan marah Umar bin Khatab memanggil Abu Salamah.

“Ubaidillah, kamu kenal dengan wanita ini?” Tanya Khalifah Umar bin Khatab kepada Abu Salamah.

Abu Salamah tak langsung menjawab pertanyaan ayahnya, sejenak dipandanginya wanita itu yang menggendong seorang bayi itu kemudian menunduk.

“Kau kenal dia?!”

“Benar ayah”

“Apa yang telah kau lakukan bersamanya?”

“Maafkan saya Ayah, anakmu telah khilaf, sehingga menuruti ajakn syaitan. Sekarang saya pasrah , hukuman apapun yang ayah berikan kepada saya akan saya terima, daripada saya harus menaggung semuadiakhirat kelak.”

Mendengar pengakuan anakknya, Khalifah Umar bin Khatab merasa bangga atas sikap yang dilakukan oleh anaknya yang mau mengakui kesalahan yang telah diperbuatnya. Namun sebagai seorang ayah, ia merasa tak tega menghukum anaknya. Ia seperti memeakn buah simalakama, tapi sebagai seorang Khalifah dirinya harus benar-benar menegakkan keadilan.

Disinilah letak sikap menegakkan keadilan seorang pemimpin yang tengah diuji, dimana ia harus berhadapan dengan anaknya sendiri.

“Bagaimanapun juga hukum harus tetap ditegakkan Ubaidillah anakku, kau harus tetap dihukum rajamsesuai dengan hokum Islam,” kata Khalifah Umar bin Khatab dengan tegas.

Mendengar keputusan Khalifah Umar bin Khatab, banyak shabat yang berusaha mencegah dan menasehatinya agar hukuman itu diurungkan atau diganti dengan hukuman lain. Namun ketetapan hati Umar bin Khatab untuk menegakkan keadilan sudah bulat dan tidak ditawar lagi.

“Hukum harus tetap ditegakkan, tidak pandang bulu bagi siapapun yang telah melanggarnya.”

Tegasnya kemudian.

Akhirnya hukuman rajjam dilaksanakan. Abu Salamah putera Umar bin Khatab menjalani eksekusi hukuman rajjam dan cambuk yang sesuai dengan apa yang ia lakukan hingga ia menemui ajalnya ditang rajam.